MEMUTUS ARUS PERUNDUNGAN (Menguatkan Benteng Jiwa Anak dari Badai Bullying)
MEMUTUS ARUS
PERUNDUNGAN
(Menguatkan Benteng Jiwa Anak dari
Badai Bullying)
Penulis:
Editor: Dr. Hj.
Rofiatul Hosna, M.Pd
Penata Letak: Arum Tian
Martaina
Desain Sampul: Tim Beta Aksara
Copyright
©betaaksara,2026
ix + 92 hlm,
14,8 x 21 cm
Cetakan
Pertama, Agustus 2026
Sebuah karya tulis yang lahir dari perenungan
mendalam dan riset yang panjang sering kali bernasib sunyi. Ia merekam data
yang akurat, namun jika dikemas secara kaku, gagasan tersebut kerap kali hanya berakhir
di ruang-ruang penyimpanan yang terbatas. Sangat disayangkan jika kebenaran
ilmiah yang terkandung di dalamnya—yang merekam jeritan senyap anak-anak kita
di sekolah—tidak pernah sampai ke telinga mereka yang paling membutuhkan: para
orang tua yang cemas di rumah, guru-guru yang berjuang di ruang kelas, dan
kepala sekolah yang memegang kendali kebijakan.
Buku "Memutus Arus Perundungan: Menguatkan
Benteng Jiwa Anak dari Badai Bullying" hadir sebagai jawaban atas
kegelisahan tersebut. Buku ini bukan sekadar menyajikan teori-teori tebal yang
berjarak dari realitas. Lebih dari itu, ini adalah sebuah upaya transformasi;
sebuah kompas taktis yang mengubah rumitnya analisis perilaku dan data
statistik menjadi sebuah narasi populer yang hidup, komunikatif, dan membumi.
Landasan
utama buku ini berpijak pada realitas objektif di lapangan. Melalui potret
pengamatan mendalam terhadap ratusan siswa Sekolah Dasar Negeri di Kota Jambi,
kita diajak untuk melihat melampaui apa yang kasatmata. Perundungan (bullying)
di tingkat sekolah dasar bukanlah kenakalan biasa yang bisa diabaikan dengan
kalimat ringkas, "Ah, namanya juga anak-anak." Ini adalah
sebuah badai sistemik yang sedang meretakkan fondasi masa depan generasi kita.
Melalui buku ini, kita akan mengupas anatomi
perundungan bukan untuk memicu kepanikan, melainkan untuk membangun kesadaran
bersama. Pembaca akan diajak memahami bagaimana interaksi antara rapuhnya
kontrol diri (self-control), minimnya pelukan dukungan sosial (social
support), dan hilangnya motivasi intrinsik dari dalam diri anak dapat
menciptakan ruang hampa yang membuat mereka terseret ke dalam arus tekanan
kelompok teman sebaya yang toksik.
