MEMUTUS ARUS PERUNDUNGAN (Menguatkan Benteng Jiwa Anak dari Badai Bullying)

Agustus 11, 2026


 

MEMUTUS ARUS PERUNDUNGAN

(Menguatkan Benteng Jiwa Anak dari Badai Bullying)


Penulis:

DEWI SUTRIA

 

Editor: Dr. Hj. Rofiatul Hosna, M.Pd

Penata Letak: Arum Tian Martaina

Desain Sampul: Tim Beta Aksara

 

Copyright ©betaaksara,2026

ix + 92 hlm, 14,8 x 21 cm

Cetakan Pertama, Agustus 2026


Sebuah karya tulis yang lahir dari perenungan mendalam dan riset yang panjang sering kali bernasib sunyi. Ia merekam data yang akurat, namun jika dikemas secara kaku, gagasan tersebut kerap kali hanya berakhir di ruang-ruang penyimpanan yang terbatas. Sangat disayangkan jika kebenaran ilmiah yang terkandung di dalamnya—yang merekam jeritan senyap anak-anak kita di sekolah—tidak pernah sampai ke telinga mereka yang paling membutuhkan: para orang tua yang cemas di rumah, guru-guru yang berjuang di ruang kelas, dan kepala sekolah yang memegang kendali kebijakan.

Buku "Memutus Arus Perundungan: Menguatkan Benteng Jiwa Anak dari Badai Bullying" hadir sebagai jawaban atas kegelisahan tersebut. Buku ini bukan sekadar menyajikan teori-teori tebal yang berjarak dari realitas. Lebih dari itu, ini adalah sebuah upaya transformasi; sebuah kompas taktis yang mengubah rumitnya analisis perilaku dan data statistik menjadi sebuah narasi populer yang hidup, komunikatif, dan membumi.

Landasan utama buku ini berpijak pada realitas objektif di lapangan. Melalui potret pengamatan mendalam terhadap ratusan siswa Sekolah Dasar Negeri di Kota Jambi, kita diajak untuk melihat melampaui apa yang kasatmata. Perundungan (bullying) di tingkat sekolah dasar bukanlah kenakalan biasa yang bisa diabaikan dengan kalimat ringkas, "Ah, namanya juga anak-anak." Ini adalah sebuah badai sistemik yang sedang meretakkan fondasi masa depan generasi kita.

Melalui buku ini, kita akan mengupas anatomi perundungan bukan untuk memicu kepanikan, melainkan untuk membangun kesadaran bersama. Pembaca akan diajak memahami bagaimana interaksi antara rapuhnya kontrol diri (self-control), minimnya pelukan dukungan sosial (social support), dan hilangnya motivasi intrinsik dari dalam diri anak dapat menciptakan ruang hampa yang membuat mereka terseret ke dalam arus tekanan kelompok teman sebaya yang toksik.